Sosok Siregar

Sosok Marga Siregar

Sosok menampilkan sumber daya marga Siregar yang unggul dan berprestasi.
Sosok di sini ada yang merupakan tokoh terkenal yang terhormat dan disegani baik lokal, nasional, maupun internasional. Ada juga yang barangkali “bukan siapa-siapa” menurut persepsi awam, tetapi justru ternyata adalah “motivator ulung” dengan perbuatan yang dikerjakannya dengan sungguh-sungguh dan luar biasa.
Siapa pun turunan Toga Siregar yang mampu menjadi inspirasi bagi kita semua akan dipaparkan di halaman Sosok ini.

Kehebatan mereka adalah potret perjuangan (sojuangan) dan keberanian (sibarani) dalam menghadapi tantangan hidup. Semangat (tondi) dan darah Siregar yang mengalir dalam diri mereka telah menjadi bukti bahwa marga Siregar tak pernah berhenti melahirkan generasi berkualitas.
Kisah sukses mereka diharapkan tidak sekadar hanya memberikan rasa bangga belaka kepada sesama kita.
Namun, sepatutnya memotivasi dan menginspirasi pembaca untuk selalu memberikan yang terbaik dari diri sendiri dan bermanfaat bagi orang lain dan kehidupan.

Sosok disusun menurut urutan abjad.

A B C D E F  G H I J  K L M N  O P Q  R S T U V  W X Y Z

Ahmad Tamimi Siregar

Ahmad Tamimi SrgAhmad Tamimi merupakan orang Batak Angkola yang menjadi seorang pelakon (aktor) film yang sukses di Malaysia.Ahmad Tamimi telah memainkan berbagai peran dalam berbagai film, baik sebagai pemeran utama (main actor) maupun pemeran pembantu (supporting role).Film “Abang” adalah satu di antara film-film Ahmad Tamimi yang amat digandrungi di semenanjung Malaysia dan negara Singapura. Beliau berperan sebagai pelakon utama dalam film tersebut. Di Indonesia, ia cukup dikenal oleh peminat film-film Malaysia terutama di kawasan yang berhampiran dengan negara Malaysia seperti Sumatra, Riau, dan kawasan yang bisa menangkap siaran tv-tv Malaysia.

Di tahun 1987, pada Festival Film Malaysia ke-7, Ahmad Tamimi Siregar memperoleh anugerah Best Actor. Beliau pun telah memperoleh gelar Datuk, suatu gelar yang disematkan kepada individu yang dianggap berjasa dan berprestasi oleh kerajaan Malaysia.

Arifin M. Siregar

Arifin M SrgTempat, tanggal lahir: Medan, 11 Februari 1934

Nama Ayah: Maskud Siregar
Nama Ibu: Siti Maimun Pulungan
Nama Istri: Adiati

Pendidikan:
- Nederlandsche Economische Hogeschool, Rotterdam, Belanda (1953-1956)
- Universitas Munster, Jerman Barat (1958)
- Universitas Munster, Jerman Barat (doktor, 1960)

Karier:

  • Bekerja sebagai research-worker di Institut fur Industriewirtschaftliche Forschung di Universitas Munster, Jerman Barat (1960-1961)
  • Economic Affairs Officer di United Nations Bureau of General Economic Research and Policies di New York (1961)
  • Mendirikan dan menjalankan Bagian Ekonomi United Nations Economic and Social Office, Beirut (1963)
  • Economist Asian Department IMF, Washington DC (1965)
  • Wakil IMF di Laos sebagai Penasihat Keuangan/Moneter Pemerintah Laos (1969-1971)
  • Direktur Bank Indonesia (1971)
  • Alternate Governor of IMF untuk Indonesia (1973-1983)
  • Gubernur Bank Indonesia (1983 -1988)
  • Alternate Governor of IDB untuk Indonesia (1983)
  • Menteri Perdagangan Kebinet Pembangunan V (1988-1993)
  • Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Amerika Serikat dan Grenada (Agustus 1993-Februari 1998)

Dr. Arifin M. Siregar ialah mantan Gubernur Bank Indonesia. Ia diangkat menjadi gubernur pada 23 Maret 1983,setelah sebelumnya menjabat Direktur BI.Ia masuk BI tahun 1961. Tanda tangan beliau selalu tertera pada mata uang Indonesia Rupiah keluaran periode 1983–1988.
Setelah itu, Arifin menjabat Menteri Perdagangan Kebinet Pembangunan V (1988-1993). Kemudian, Arifin dipercaya menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Amerika Serikat dan Grenada (Agustus 1993-Februari 1998).

“Sebenarnya saya ini bukan anak yang pandai. IQ saya pun biasa-biasa saja,”katanya,”tetapi, saya memiliki kemauan kuat.Lebih dari itu, ibu-lah yang mendorong keberhasilan saya.”
Sang ibu, Siti Maimun Pulungan, sudah wafat.

Setamat SMA, Arifin merantau ke Eropa. Ayahnya, Maskud Siregar, bekas pengusaha ekspor impor, rupanya tidak selalu mengiriminya banyak uang. “Saya terpaksa kuliah sambil bekerja,”kata Arifin. Setelah belasan tahun di rantau, pada Februari 1960 Arifin berhasil meraih gelar doktor dalam bidang ekonomi, dengan yudisium magna cum laude, dari Munster Universitat, Jerman Barat. Disertasinya berjudul Die Asussenwirtschaft und wirtschaftliche Entwicklung Indoneisens(Perdagangan Luar Negeri dan Perkembangan Ekonomi Indonesia). Setahun kemudian, 1961, karya tersebut dibukukan.

Ashadi Siregar

Ashadi SrgTempat, tanggal lahir : Pematang Siantar, 3 Juli 1945

      Pendidikan:
  • SR Negeri I, Rantauprapat (1958)
  • SMP Negeri I, Padangsidempuan (1961)
  • SMA bag. B Negeri I, Padangsidempuan (1964)
  • Sarjana Muda (Bachaloreat) Fakultas Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta (1968)
  • Sarjana Fakultas Sosial dan Politik dengan Spesialisasi Ilmu Publisistik/Ilmu Komunikasi, UGM, Yogyakarta (1970)

Pekerjaan/jabatan:

  • Pegawai Negeri Sipil (sejak 1970)
  • Pengajar pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UGM
  • Direktur Lembaga Penelitian Pendidikan Penerbitan Yogya/LP3Y

Kegiatan akademik:

  • Pengajar dan peneliti media (jurnalisme, televisi dan film)
  • Pembicara/penceramah seminar media, kebudayaan dan Lembaga Swadaya Masyarakat
  • Research Fellow, Studi Audio – Visual Media for Social Sciences, Department of Anthropology, University of South Carolina, USA
  • Pengajar tamu pada Fakultas Media Rekam Institut Seni Indonesia Yogyakarta
  • Pengajar pada Program Kajian Budaya dan Media, Sekolah Pasca Sarjana UGM

Referensi:
-Who’s Who In Indonesia, Second revised Edition, O.G.Roeder – Mahiddin Mahmud, Gunung Agung, Singapore (1980)
-Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia (Edisi 1981-1982); (Edisi 1983-1984); (Edisi 1985-1986), Penerbit Grafiti Pers, Jakarta (1981), (1983), (1985)
-Apa Dan Siapa Sejumlah Alumni UGM, Penerbit Pustaka LP2ES, Jakarta (1999)

    Tanda penghargaan/kehormatan:

  • Medali Satyalancana Karya Satya XX tahun, Presiden RI (1999)
  • Medali Piagam Pengharaan Kesetiaan, Rektor UGM (1999)
  • Medali Satyalancana Karya Satya XXX tahun, Presiden RI (2007)

Profesional:

  • Redaktur Mingguan Publica Yogyakarta (1968)
  • Dosen pada Jurusan Publisistik/Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM, Yogyakarta (1970 – sekarang)
  • Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Mingguan Sendi Yogyakarta (1972 – 1973)
  • Pembantu lepas (stringer) Majalah Tempo Jakarta untuk Yogyakarta (1973)
  • Anggota Direksi Lembaga Penelitian Pendidikan Penerbitan Yogya/LP3Y (1982 – 1992)
  • Penasehat/advisor untuk produksi 3 film berdasarkan novel Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu dan Terminal Cinta Terakhir (1976 – 1977)
  • Perancang dan supervisor berbagai pelatihan jurnalistik (1980 – sekarang)
  • Perancang dan supervisor berbagai pelatihan penulisan skenario televisi (1980 – sekarang)
  • Perancang dan supervisor berbagai pelatihan manajemen seni pertunjukan (1980 – sekarang)
  • Perancang dan supervisor berbagai pelatihan untuk aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) tentang manajemen perencanaan pembangunan masyarakat (1982 – sekarang)
  • Konsultan media massa (1982 – sekarang)
  • Sekretaris Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM (1990 – 1996)
  • Direktur Lembaga Penelitian Pendidikan Penerbitan Yogya/LP3Y (1992 – sekarang)
  • Dewan Pengawas Yayasan Institut Arus Informasi (ISAI), Jakarta (1994 – 2008)
  • Produser Film Televisi Tajuk 6 (enam) episode ditayangkan di Televisi Pendidikan Indonesia/TPI (1996)
  • Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM (1996 – 1999)
  • Redaktur Ahli Majalah JURNAL Pasar Modal Indonesia, Jakarta (2000)
  • Advisor Komunitas TV Publik Indonesia (KTVPI/Yayasan Sains Estetika Teknologi – SET), Jakarta (2000 – 2001)
  • Ketua Tim Ombudsman SKH Kompas (2003 – sekarang)

Organisasi:

  • Anggota/aktivis Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) (1968 – 1970)
  • Anggota pengurus Dewan Kesenian Daerah Istimewa Yogyakarta (DK-DIY) (1979 – 1990)
  • Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Cabang Yogyakarta (1983 – 1991)
  • Wakil Ketua Umum Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Pusat (1991 – 1995)

Publikasi:

  • Menulis 12 novel, 4 di antaranya difilmkan
  • Menulis dan menyunting sejumlah buku tentang media dan kebudayaan
  • Menulis sejumlah artikel kontribusi jurnal dan antologi buku tentang media dan kebudayaan
  • Menulis kolom untuk suratkabar dan majalah berita

Bismar Siregar

Bismar SrgTempat, tanggal lahir: Sipirok, 15 September 1928

Nama Isteri: Yunainen F. Damanik
Nama Ayah: Aminuddin Raja Baringin Siregar
Nama Ibu: Siti Fatimah

Pendidikan:
-FH UI, Jakarta (1956)
-National College of the State Judiciary, Reno, AS (1973)
-American Academy of Judicial Education, Tescaloosa, AS (1973)
-Academy of American and International Law, Dallas, AS (1980)

Karier: Jabatan
-Jaksa di Kejari Palembang (1957-1959)
-Jaksa di Kejari Makassar/Ambon (1959-1961)
-Hakim di Pengadilan Negeri Pangkalpinang (1961-1962)
-Hakim di Pengadilan Negeri Pontianak (1962-1968)
-Panitera Mahkamah Agung RI (1969-1971)
-Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Utara/Timur (1971-1980)
-Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Barat, Bandung (1981-1982)
-Ketua Pengadilan Tinggi Sumatera Utara, Medan (1982-1984)
-Hakim Agung di Mahkamah Agung RI (Juni 1984 -1 Desember 1995)

Ayahnya, pensiunan kepala sekolah rakyat (SD), memang menginginkan Bismar, anak kelima dari 13 bersaudara, menjadi hakim yang baik. Setelah menyandang gelar sarjana hukum UI, Bismar memulai karier sebagai jaksa di Kantor Kejaksaan Negeri Palembang (1957). Setelah bertugas dua tahun di Palembang, Bismar pindah ke Kejaksaan Negeri Ujung Pandang.Baru setahun bertugas di Ujung Pandang, Bismar kemudian dipindahkan lagi ke Kejaksaan Negeri Ambon (1960). Dua tahun kemudian (1962) Bismar meniti karier sebagai hakim, pertama kali bertugas di Pengadilan Negeri Pangkal Pinang (1962), kemudian dipindahkan ke PN Pontianak (1962-1968). Kariernya naik menjadi hakim agung sejak Juni 1984. Ia mengaku tidak menduga sebelumnya. Soalnya, sudah pernah dua kali ia dicalonkan menjadi hakim agung, 1979 dan 1980, tetapi tidak gol. Menjadi hakim agung di Mahkamah Agung (1984-1995) merupakan puncak karier Bismar sebagai pendekar hukum. Kemudian Bismar menikmati hari-hari pensiunnya, sejak 1 Desember 1995.

Tatkala menjadi hakim aktif, Bismar Siregar, seringkali melakukan terobosan hukum dalam menegakkan keadilan. Sebagai seorang hakim, dia tidak mau diintervensi oleh siapa pun termasuk atasannya (Ketua Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung). Dia juga tidak mau pasrah bilamana belum ada undang-undang yang mengatur suatu perkara yang sedang diadili. Demi tegaknya keadilan, baginya, hakim adalah undang-undang.

Untuk itu, Bismar selalu bertanya kepada hati nuraninya sendiri. Dia tidak ingin membohongi hati nuraninya ketika memutuskan suatu perkara. Setiap kali membuka berkas perkara atau memimpin sidang pengadilan, nurani keadilan selalu terbayang dibenaknya. Karena itu, kebanyakan teman menganggapnya sebagai hakim yang aneh, penuh kontroversi. Padahal duduk soalnya sederhana saja, Bismar tidak mau disuap, tidak bisa dibeli.

Tidak seperti kebanyakan pria Batak, Bismar bertutur kata lembut, tetapi vonisnya bisa menggelegar, bahkan kontroversial. Bismar Siregar pernah menaikkan hukuman pengadilan tingkat pertama menjadi 10 kali lipat. Ini dilakukannya pada kasus Cut Mariana dan Bachtiar Tahir, yang oleh Pengadilan Negeri Medan dihukum 10 bulan penjara karena dituduh memperdagangkan 161 kg ganja. Vonis ini kemudian diubah Bismar-waktu itu Ketua Pengadilan Tinggi Sumatera Utara-menjadi 15 & 10 tahun penjara.

Masih ada contoh lain, hukuman 7 bulan penjara yang dijatuhkan Pengadilan Negeri Tanjungbalai terhadap kepala sebuah SMP Negeri di Kisaran, Sumatra Utara, yang dituduh berbuat cabul dengan anak didiknya sendiri, diubahnya menjadi 3 tahun penjara. Statusnya sebagai pegawai negeri juga dicabut. Bismar, masih sebagai Ketua Pengadilan Tinggi Sumatera Utara, malah menafsirkan kata barang dalam Pasal 378 KUHP, yang dituduhkan dilanggar oleh terdakwa, bisa berarti ”jasa”. Ini dikaitkannya dengan istilah bonda (barang) dalam bahasa Tapanuli, yang juga bisa berarti alat kelamin. ”Jadi, bila saksi menyerahkan kehormatannya kepada terdakwa samalah dengan menyerahkan bonda,” ujar Bismar berdalih.

Ketika mengadili seorang tokoh BTI/PKI, Mei 1967, Bismar dengan berani melawan tekanan PKI. ”Tetapi dengan menyerah kepada kuasa Tuhan, tokoh BTI itu dapat dihukum juga,” tuturnya.
Bagi Bismar Siregar, kedudukan hakim di Indonesia adalah sebagai “wakil Tuhan”.

Ersa Siregar, 1951—2003

Ersa SiregarTempat, tanggal lahir: Brastagi, Kabupaten Karo, 4 Desember 1951

Nama Ayah: Baginda Madjid Ibrahim Siregar
Nama Ibu: Nurmia Harahap
Nama Istri: Tuty Komala Bintang Hasibuan

Sory Ersa Siregar (nama lengkap Ersa Siregar) adalah seorang wartawan televisi yang bekerja untuk stasiun teve Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) yang menjadi korban ketika meliput konflik Aceh pada tahun 2003.
Sejak kecil, keluarganya sering berpindah-pindah karena tugas ayahnya,Baginda Madjid Ibrahim yang seorang tentara. Kondisi ini pun telah menempanya untuk terbiasa hidup mandiri.

Ersa merantau ke Jakarta usai menamatkan pendidikan di SMA 8. Di ibu kota, Ersa kuliah di Akademi Bank. Ersa kemudian bekerja di perusahaan di Kalimantan, PT Felda dan PT Satmarindo. Tak lama di Kalimantan, ia kembali ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Publisistik Jakarta. Usai menamatkan pendidikan jurnalistiknya, pada tahun 1993, ia bergabung menjadi reporter RCTI.

Dari pernikahannya dengan Tuty Komala Bintang boru Hasibuan, Ersa Siregar dikarunia tiga anak: Ridhwan Ermala Mora Siregar, mahasiswa Jurusan Komunikasi FISIP Universitas Sebelas Maret Solo, Fitrah, dan Sarah.

Pilihan hidup sebagai wartawan, dijalaninya dengan penuh dedikasi. Sejak bergabung dengan RCTI, Ersa telah melakukan peliputan ke berbagai daerah di Indonesia. Terakhir, ia memilih untuk diterjunkan ke Aceh, bergabung dalam tim RCTI yang melakukan peliputan pemberlakuan Darurat Militer yang ditetapkan oleh pemerintah RI pada 19 Mei 2003.
Ersa Siregar ditahan oleh kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wilayah Peureulak sejak 29 Juni 2003. Ersa ditahan bersama Ferry Santoro (kameramen RCTI), Rahmatsyah (supir), Ny. Safrida dan adiknya Soraya. Ny. Safrida adalah istri dari Letkol Ashari.
Pada 29 Desember 2003, Ersa ditemukan tewas dalam pertempuran antara GAM dengan TNI di Kuala Maniham, Simpang Ulim, Aceh Timur.

Hariman Siregar

Hariman SrgTempat, tanggal lahir: Padangsidempuan, 1 Mei 1950

Pendidikan: -Fakultas Kedokteran UI (1977)

Kasus 15 Januari 1974, tercatat sedikitnya 11 orang meninggal, 300 luka-luka, 775 orang ditahan. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor dirusak/dibakar, 144 bangunan rusak. Sebanyak 160 kg emas hilang dari sejumlah toko perhiasan.
Peristiwa itu terjadi saat Perdana Menteri (PM) Jepang Kakuei Tanaka sedang berkunjung ke Jakarta (14-17 Januari 1974). Mahasiswa merencanakan menyambut kedatangannya dengan berdemonstrasi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Karena dijaga ketat, rombongan mahasiswa tidak berhasil menerobos masuk pangkalan udara. Tanggal 17 Januari 1974 pukul 08.00, PM Jepang itu berangkat dari Istana tidak dengan mobil, tetapi diantar Presiden Soeharto dengan helikopter dari Bina Graha ke pangkalan udara. Itu memperlihatkan, suasana kota Jakarta masih mencekam.

Hariman Siregar menjadi tokoh sentral di balik peristiwa itu.
Lahir di Padangsidempuan, Tapanuli Selatan, ia anak keempat dari tujuh bersaudara. Putra Kalisati Siregar, pensiunan pegawai Departemen Perdagangan. lbunya boru Hutagalung.
Sejak SD, Hariman di Jakarta. Tahun 1973 ia terpilih sebagai Ketua Umum Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia, di saat aksi berbagai kampus terasa meningkat. “Gerakan mahasiswa yang dilancarkan sejak Agustus 1973 tak lain untuk mengkritik strategi pembangunan yang dinilai sudah menyimpang dari cita-cita Orde Baru,” ujar Hariman beberapa tahun kemudian.

Tanpa sebab musabab yang jelas, “gerakan” itu meledak dalam aksi pembakaran dan perusakan barang-barang buatan Jepang kemudian juga toko dan bangunan lain. Hariman sendiri (bersama antara lain Adnan Buyung Nasution, Princen, Fahmi Idris, Sjahrir, Imam Waluyo, Rachman Tolleng, Sarbini Sumawinata, Dorodjatun Kuntjoro Jakti) ditahan. Menyelesaikan kuliahnya di FK UI (1977), Hariman tidak sampai penuh menjalani vonis hukuman 6 tahun yang dijatuhkan atas dirinya. Namun Sriyanti, putri Prof. Sarbini Sumawinata yang dikawininya November 1972, mengalami goncangan. Wanita itu telah melahirkan seorang anak lelaki bagi Hariman. Bayinya yang kedua meninggal lahir ketika Hariman ditahan.

Meskipun kini sudah mengasingkan diri dari ingar bingar dunia politik dan sibuk mengelola klinik medisnya, Baruna, gaya Hariman Siregar masih tetap seperti dulu. Bahasanya meledak-ledak dan bersemangat.
Tokoh demonstran yang ikut membuat geger dunia politik nasional dengan peristiwa yang kemudian dikenal sebagai peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) 1974 ini mengaku masih sering berkomunikasi dengan teman-teman seangkatannya. “Kalau ada aktivitas eks Malari, saya selalu ikut,” katanya

Hamonangan Siregar

Monang SiregarSumber: Majalah SWAsembada, Senin, 3 November 2008

Oleh Moh. Husni Mubarak

Kerja keras dan semangat ingin berubah, itulah motivasi utama Hamonangan Siregar, kelahiran Tapanuli Selatan, 31 Maret 1973, saat memutuskan merantau ke Ibu Kota. Buahnya, kini ia menjadi Direktur PT Hagita Batara Sukses, yang membidangi general trading contractor, mulai dari suku cadang industri, pipanisasi, peralatan keamanan hingga desain mesin. Perusahaan ini dibesutnya bersama dua rekannya yang sama-sama perantau dari Tapanuli. “Jangan sampai mengecewakan klien karena mereka yang menjadi media promo perusahaan lewat komunikasi getok tular,” ujar jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatra Utara ini tentang kiat bisnisnya. Sebelumnya, ia sempat menjadi supir angkot (1993). Toh, ia tak berkecil hati. Keinginan untuk terus mengubah nasib membuatnya tak berhenti mencari peruntungan. Karena cuma bisa menyetir mobil, ia hanya menjadi supir ketika melamar kerja di sebuah perusahaan general trading contractor (1994). “Saya tidak mengeluh meskipun penghasilan yang saya terima jauh lebih kecil dibanding saat jadi supir angkot,” kata Monang, sapaan akrabnya.

Ketekunan dalam bekerja membuat Monang dipercaya sebagai pengantar surat. Melihat kinerja dan potensinya, ia lalu dipercaya masuk ke divisi penjualan. Bakat dagang yang dimilikinya membuat ia kemudian didapuk menjadi Manajer Penjualan (1995). Ilmu yang didapat mendorongnya mendirikan perusahaan sendiri. Untuk memperluas jejaring, ia antara lain memanfaatkan hobi balapnya sebagai ajang lobi dengan eksekutif lainnya, termasuk Hutomo Mandala Putra. “Selain bisa saling kenal, kami bisa belajar sportivitas,” ujar ayah Aziz Arifin (lima tahun) dan Fanny Amalia (dua tahun) ini.

Mangombar Ferdinand Siregar

M F SrgTempat, tanggal lahir: Jakarta, 11 November 1928

Nama Istri: Darliah Nasution

    Pendidikan:

  • HIS (SD), Jakarta (1941)
  • SMP Negeri II, Jakarta (1946)
  • SMA PARKI, Bandung (1950)
  • Akademi Pendidikan Djasmani, Bandung (1954)
  • Springfield College Massachusetts, AS (M.Sc., 1965)
  • Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari Universitas Negeri Jakarta (4 Agustus 2004)

Nama Mangombar Ferdinand (MF) Siregar tidak bisa dilepaskan dari dunia olahraga Indonesia.Pengabdiannya selama 46 tahun, dipupuk oleh rasa cintanya kepada olahraga yang telah tertanam sejak kecil.Ia menimba ilmu di Akademi Pendidikan Djasmani Bandung dan Master Pendidikan Jasmani dari Springfield College, Amerika Serikut. Ini yang menjadi bekalnya menguasai olahraga dari segi teknik dan keahlian.
Tokoh legendaris olahraga Indonesia MF Siregar sering disebut sebagai teknokrat olahraga. Perancang kesuksesan tim bulutangkis di Olimpiade Barcelona 1992 dengan dua emas, satu perak, dan dua perunggu ini selalu mengatakan, “Untuk meningkatkan prestasi perlu intervensi teknologi.”

Selain mempunyai kemampuan teknokratis, ia juga seorang pembina dan sekaligus olahragawan. MF Siregar pernah menjadi atlet pada masa pelajar dan mahasiswa, lalu menjadi pengurus dan pembina olahraga untuk sejumlah cabang, yaitu gulat, senam, dayung, tenis, dan bulutangkis.

Pemikiran besar MF Siregar tentang olahraga jauh mengakar pada persoalan kebangkitan bangsa dan nasionalisme Indonesia.Berkali-kali ia mengingatkan tentang makna nasionalisme dan manfaat olahraga bagi pembangunan bangsa dan karakter manusia Indonesia. Puncak dari pengakuan akan dedikasinya yang tinggi di dunia olahraga adalah medali penghargaan L’Orde Olympique dari International Olympic Committee (IOC) pada tahun 1986.

Merari Siregar, 1896—1941

Tempat, tanggal lahir: Sipirok, 13 Juli 1896

    Nama Anak:

  • Florentinus Hasajangu MS
  • Suzanna Tiurna Siregar
  • Theodorus Mulia Siregar

Karya:
Novel

  • Azab dan Sengsara. Jakarta: Balai Pustaka. Cet. 1 tahun 1920,Cet.4 1965
  • Binasa Karena Gadis Priangan. Jakarta: Balai Pustaka 1931
  • Cerita tentang Busuk dan Wanginya Kota Betawi. Jakarta: Balai Pustaka 1924
  • Cinta dan Hawa Nafsu. Jakarta

Saduran

  • Si Jamin dan si Johan. Jakarta: Balai Pustaka 1918

Merari Siregar adalah sastrawan Indonesia angkatan Balai Pustaka.

Semasa kecil, Merari Siregar berada di Sipirok. OIeh karena itu, sikap, perbuatan, dan jiwa Merari Siregar sangat dipengaruhi oleh kehidupan masyarakat Sipirok. Ia menjumpai kepincangan-kepincangan khususnya mengenai adat, misalnya, kawin paksa yang terdapat dalam masyarakat lingkungannya. Setelah dewasa dan menjadi orang terpelajar, Merari Siregar melihat keadaan suku bangsanya yang mempunyai pola pikir yang tidak sesuai dengan tuntutan zaman. Hati kecilnya ingin mengubah sikap orang-orang yang berpandangan kurang baik khususnya orang-orang di daerah Sipirok.

Ia pernah bersekolah di Kweekschool(sekolah guru) dan sekolah guru Oosr en West(Timur dan Barat) di Gunung Sahari, Jakarta. Pada tahun 1923 Merari Siregar bersekolah di sekolah swasta yang didirikan oleh vereeniging tot van Oost en West, yang pada masa itu merupakan organisasi yang aktif mempraktikkan politik etis Belanda. Setelah lulus, Merari Siregar mula-mula bekerja sebagai guru bantu di Medan kemudian pindah bekerja di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) Jakarta, Terakhir pengarang ini pindah ke Kalianget, Madura, Jawa Timur; tempat ia bekerja di Opium end Zouregie sampai akhir hayatnya dan wafat 23 April 1941.

Selain Azab dan Sengsara serta Si Jamin dan Si Johan yang terkenal, karya-karya lain yang kurang dikenal, yaitu (1) Binasa Karena Gadis Priangan, Balai Pustaka, 1931 (2)Cerita Tentang Busuk dan Wanginya Kota Betawi, Balai Pustaka, 1924 dan (3) Cinta dan Hawa Nafsu yang merupakan sebuah roman. Profesi Merari Siregar sebagai guru mewarnai gaya penceritaan dan gaya karya sastranya, baik karya asli maupun sadurannya. Penggunaan bahasa yang lancar dan rapi dengan gaya khotbahnya langsung menunjukkan perkataan atau maksudnya kepada pembaca; meminta perhatian untuk ceritanya. Ia memberi nasihat, mengecam yang kurang baik serta memuji-muji tindakan yang menurut aturan masyarakat baik.

Omar Abdalla Siregar

Tempat, tanggal lahir: Tebingtinggi, 3 Juni 1926

    Pendidikan:

  • Akademi Perniagaan Indonesia (B.B.A.)
  • Koresponden Dagang Inggris A & B (1957)
  • Kursus Perdagangan Uang dan Efek-efek (1958)
  • FE Ekstension UI (tingkat IV)
  • FE Universitas Krisnadwipayana (1968)
    Karier:

  • Pegawai (1951-1957), kemudian Direktur Bank Perniagaan Indonesia, Jakarta (1958-1960)
  • Direktur Bank Bumi Daya (1960-1966)
  • Dirut Bank Dagang Negara (1967-1977)
  • Dirut Bank Bumi Daya (1977)
    Kegiatan Lain:

  • Wakil Ketua Perbanas (1954-1960)
  • Pengurus Efecten Beurs (1957-1960)
  • Anggota Dewan Direksi Indover Bank Amsterdam (1971)
  • Anggota MPR (1972-1977)
  • Ketua Dewan Direksi PT Indovest (1973-1977)
  • Ketua Asean Banking Council (1979-1981)
  • Ketua Dewan Direksi Asean Financial Corporation (1981)

Omar Abdalla Siregar lahir di Tebingtinggi, Sumatra Utara, pada 3 Juni 1926 sebagai anak kedua dari 13 bersaudara.

Pernah bersekolah di Sekolah Pertanian dan SMA, tetapi menyelesaikan pendidikan menengahnya dan lulus dari SMEA. Lulus SMEA, ia berkelana mencari pekerjaan sampai kakinya lecet. Akhirnya ia diterima sebagai kepala pembukuan pada Bank Perniagaan Indonesia, 1951. Kariernya meningkat hingga ia kemudian diangkat menjadi Pemegang Kuasa Umum Bank Perniagaan Indonesia di Jakarta. Lalu pada tahun 1958-1960 menjadi direktur utamanya.Ketika terjadi pengambilalihan terhadap bank-bank asing, 1959, Drs. Pamungkas, Kepala Direktorat Moneter II, saat itu, mengajaknya bergabung pada bank pemerintah. Omar lalu menjabat direktur pada Bank Umum Negara, kemudian Direktur Utama Bank Dagang Negara (BDN). Ketika betah di BDN, ia diminta kembali ke Bank Umum Negara yang sudah berganti nama menjadi Bank Bumi Daya (BBD) pada tahun 1977.

BBD ketika dipegangnya dalam keadaan krisis, antara lain karena kredit macet. Ia berhasil mengatasi krisis itu. Resepnya? Ia menunjuk sebuah lukisan ikan karper. “Karper itu ikan yang ulet, melambangkan kemauan keras dan ketabahan. Dengan semangat itulah kami dapat mengatasi kesulitan,” ujarnya. Pada akhir Juni 1985 aset BBD meliputi Rp 4,8 trilyun.

Ayah empat anak ini juga mengingatkan kaum muda, bekerja di pemerintahan naik pangkatnya lambat, empat tahun sekali baru naik satu tingkat. “Tapi, bekerja di swasta, orang akan cepat menjadi pimpinan,” katanya. Satu lagi anjurannya pada kaum muda. “Sebelum berusia 30 tahun boleh pindah-pindah kerja. Tapi setelah usia 30, sudah harus menentukan yang mana yang menjadi pilihan.”

Panangian Siregar

Tempat, tanggal lahir: Tanjung Pinang, 23 Mei 1936

    Pendidikan:

  • Sarjana Kedokteran Universitas Sumatera Utara (1963)
  • Penataran P-4 (1979)
  • KSA-IV Lemhannas (1994)
    Karier Politik:

  • Wakil Ketua Fraksi PDI DPR-RI (1982-1987)
  • Wakil Sekretaris Fraksi PDI MPR-RI (1982-1987)
  • Wakil Ketua Komisi VII DPR-RI (1982-1987)
  • Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara (1987-1992)
  • Anggota MPR-RI (1992-1997)
  • Tim Asistensi Pimpinan Badan Pekerjaan MPR-RI (1995-1997)
  • Wakil Ketua PANWASLAKPUS (LPU-Pemilu 1995 dan 1997)
  • Anggota DPR/MPR-RI, Wakil Ketua FPDI DPR/MPR-RI, dan Wakil Ketua Komisi IV DPR-RI (1997)

Dr. Panangian Siregar adalah mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup/Kepala Bapedal pada masa Kabinet Reformasi Pembangunan tahun 1998-2003.

Pada tahun 1964-1967, Panangian Siregar menjadi Kepala Dinas Kesehatan merangkap Direktur Rumah Sakit Umum Sidikalang, Kabupaten Dairi-Sumut.
Tahun 1967-1968 menjadi Wakil Pengawas/Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Utara, dan pensiun dari PNS pada tanggal 11 Mei 1992.

Panangian kemudian mengawali karier politiknya sebagai Ketua Golongan Nasionalis dan menjadi Anggota DPRD-GR Provinsi Sumatera Utara tahun 1967-1971 dan sejak 1971-1981 atau dalam 2 periode pemilihan umum menjadi Ketua Fraksi PDI DPRD Sumatera Utara sebelum menjadi Anggota DPR/MPR-RI pada tahun 1982-1987.

Raja Dima Siregar

Raja Dima, seorang petani terpaksa menjadi guru karena tak tega melihat anak-anak di kampungnya putus sekolah. Tak ada lagi guru yang mau mengajar di SD Sigoring-goring, di desa terpencil dan tak pernah memperoleh aliran listrik ini. Alhasil, sejak tahun 2004, ia harus mengajar kelas I sampai kelas VI sendirian. Dan sebagai imbalannya, ia mendapat 9 cangkir beras dari setiap orang tua per bulan.

Kisah tentang sang pahlawan sejati ini dikutip dari harian umum Kompas edisi Senin 16 Mei 2005

Bayaran Guru Desa 80 Kaleng Beras…
Oleh Ahmad Arif

Sudah enam bulan ini Raja Dima Siregar (37) mengajar lima kelas di SD Dusun Sigoring-goring tanpa gaji. Lelaki itu hanya dijanjikan akan mendapat bayaran beras sebanyak 80 kaleng (satu kaleng sekitar 16 kg) atau setara dengan 1.280 kg per tahun oleh para orangtua murid pada akhir tahun ajaran nanti.

Meskipun demikian, satu-satunya guru di SD Dusun Sigoring-goring, Desa Pangirkiran Dolok, Kecamatan Binanga, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, itu tak mengeluh dengan apa yang ia dapatkan. Yang ia gelisahkan justru nasib anak-anak didiknya yang belajar dengan buku pelajaran kedaluwarsa.

Hingga kini murid-murid SD Dusun Sigoring-goring harus belajar dengan menggunakan buku-buku pelajaran kejar paket A, B, dan C terbitan tahun 1997, yang sebenarnya ditujukan untuk ujian persamaan.

Fasilitas SD satu-satunya di dusun itu sangat minim. SD tersebut hanya memiliki satu ruang kelas sehingga seluruh siswa mulai dari kelas I hingga kelas VI, bercampur dan gurunya hanya seorang.

Menurut Raja Dima, sekolah itu dibangun secara swadaya oleh masyarakat pada tahun 1982. Sejak dibangun, belum ada bantuan sedikit pun dari pemerintah.

Tahun ini SD yang berada di tepi hutan eukaliptus milik Toba Pulp Lestari itu hanya memiliki 27 siswa, yaitu kelas I sebanyak sembilan siswa, kelas II delapan siswa, kelas III tujuh siswa, kelas IV satu siswa, dan kelas VI dua siswa. Kelas V tidak ada siswanya. “Semakin tinggi kelasnya, siswanya makin sedikit karena banyak yang putus di tengah jalan. Anak-anak membantu orangtuanya bekerja sehingga jika dirasa sudah cukup bisa membaca, menulis, dan berhitung, mereka tidak pergi ke sekolah lagi,” katanya.

Dusun Sigoring-goring berada jauh di pedalaman Sumatra Utara, diapit hutan register 40 Tapanuli Selatan dan hutan tanaman produksi milik PT Toba Pulp Lestari (TPL). Dusun itu dihuni 40 keluarga atau 285 jiwa, terpencil dari dusun lain, dan tak terjangkau listrik, apalagi telekomunikasi.

Untuk mencapai kota Kecamatan Binanga sedikitnya perlu 14 jam perjalanan darat dari Medan atau sekitar empat jam dari ibu kota Kabupaten Tapanuli Selatan, Padang Sidempuan. Dari Binanga ke desa itu, perjalanan menembus belantara sejauh 22 kilometer. Hanya mobil-mobil gardan ganda pengangkut kayu yang sanggup melintasi jalan lumpur menuju dusun tersebut.

Minggu siang siswa SD Sigoring-goring tetap masuk sekolah. Mereka libur pada hari Kamis bersamaan dengan pekan di kota Binanga. Saat hari pekan, orangtua termasuk Raja Dima bisanya pergi ke kota untuk menjual hasil pertanian dan membeli barang kebutuhan selama seminggu.

Siang itu para siswa yang berseragam coklat bercampur dengan yang berseragam merah putih dan sebagian lainnya yang tidak berseragam. Hampir semua anak tidak memakai alas kaki, sedangkan Raja Dima hanya mengenakan sandal jepit.

Tak seorang siswa pun yang memiliki buku-buku pelajaran. Mereka hanya mengandalkan keterangan dari guru yang menggunakan materi pelajaran dari buku-buku yang sudah kedaluwarsa tersebut. Kendati demikian, anak-anak itu mencatat pelajaran di buku tulis mereka dengan semangat.

Bocah-bocah dusun tersebut belajar di dalam bangunan tunggal sekolah dari papan yang dibagi menjadi dua ruangan dan dibatasi sekat papan semiterbuka. Terdapat dua papan tulis yang dipakai secara bersama-sama oleh lima kelas.

Setelah menuliskan pelajaran untuk kelas I, Raja Dima kemudian menghapusnya dan ganti menuliskan bahan pelajaran untuk kelas II, demikian seterusnya. Raja Dima juga harus hilir mudik menerangkan pelajaran yang ditulisnya di dua papan tulis tersebut.

“Sekarang pertanyaan untuk kelas III, orang yang pekerjaannya mencari ikan di laut apa?” kata Raja Dima.

Suasana hening. Tak seorang siswa pun menjawab. Pertanyaan yang mungkin akan dijawab dengan mudah oleh anak-anak SD kelas I di kota itu terasa sulit bagi anak-anak dusun.

Raja Dima harus menjawab sendiri pertanyaannya. Dengan sabar ia menerangkan, ada dunia di luar sana yang digeluti oleh nelayan. “Nelayan ini harus bekerja keras untuk hidup, seperti bapak-bapak kalian yang menjadi petani. Bedanya, kalau petani bekerja di ladang dengan parang dan cangkul, nelayan bekerja di laut dengan jala dan pancing,” katanya.

Raja Dima menjadi guru di sekolah tersebut sejak bulan Desember 2004. Guru sebelumnya mengundurkan diri pada bulan Oktober 2004 sehingga selama tiga bulan kegiatan belajar-mengajar di SD tersebut sempat terhenti. “Karena tidak ada yang mau mengajar, saya kasihan kepada anak-anak. Apalagi banyak orangtua murid berharap saya bisa mengajar anak-anak itu. Akhirnya saya jadi guru mereka,” kata lelaki lulusan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Gunung Tua, Tapanuli Selatan.

“Di sini guru dibayar dengan beras sebanyak 80 kaleng setahun. Jelas bayaran tersebut tidak memadai sehingga kebanyakan tidak tahan. Tetapi, saya tidak bisa menuntut bayaran lebih karena memang masyarakat di sini juga tidak mampu. Toh dua anak saya juga ikut sekolah di sini,”kata lelaki yang juga alumni SD Sigoring-goring itu.

Untuk menutupi kebutuhan hidupnya, Raja Dima lebih mengandalkan kerja kerasnya sebagai petani. Lelaki muda berputra tiga ini menggarap sawah sekitar 2.500 meter persegi yang menghasilkan beras sebanyak 100 kaleng. Beras sejumlah itu biasanya cukup untuk makan sehari-hari dan sisanya dijual untuk biaya hidup. Semenjak dia menjadi guru, pengelolaan sawah lebih banyak dilakukan istrinya.

Untuk kebutuhan sehari-hari, Raja Dima dan warga desa yang lain mengandalkan hasil tanaman karet yang ditanam di tanah adat Desa Pangirkiran. Rata-rata per orang memiliki dua hektar yang ditanami 200 pohon.

Namun, sejak enam bulan lalu ladang karet warga Desa Pangirkiran, termasuk milik warga Sigoring-goring, musnah dibakar bersamaan dengan pembakaran oleh perusahaan perkebunan nasional yang hendak membuka kebun sawit di kawasan tersebut. Dalam pembakaran itu, 17 rumah warga Sibenggol serta satu sekolah dan mushala ikut dibakar. Kini warga Sibenggol mengungsi ke dusun-dusun lain di Desa Pangirkiran, termasuk di Dusun Sigoring-goring.

Raja Dima dan warga desa lain yang terdiri atas enam dusun sempat melawan perusahaan tersebut. Namun, mereka kalah. Saat ini Dusun Sibenggol dan bekas ladang mereka telah dikelilingi parit oleh perusahaan tersebut. Tak seorang warga dusun pun yang berani ke sana karena tanah tersebut dijaga para centeng yang bersenjata.

“Kami miskin. Dan orang miskin dalam cerita negeri ini selalu kalah,”kata Raja Dima. Ia mengaku sempat memimpin perlawanan dengan melakukan demonstrasi ke kabupaten. Bukti perlawanan itu, yaitu berupa bait-bait puisi Darah Juang karya Wiji Thukul, masih ditempel di dinding kelasnya.

“Di sini negeri kami, tempat padi terhampar, samuderanya kaya raya, tanah kami subur, Tuhan. Di negeri kami ini berjuta anak rakyat tertindas duka, anak tani tak sekolah, pemuda tak bekerja… Puisi-puisi ini sepertinya mewakili suara kami. Saya mendapatkannya dari teman-teman dari Bina Keterampilan Desa yang mendampingi warga di sini. Biarlah puisi ini tertempel di kelas ini agar terus dibaca anak-anak kami sebagai bukti perlawanan orangtua mereka,”kata Raja Dima.

Kini harapan Raja Dima memang kian pupus. Bayang-bayang kekalahan tak terelakkan. Masa depan suram anak-anak didiknya, termasuk anak-anaknya, menggelisahkannya tiap hari. “Entah mau jadi apa anak-anak nantinya? Tanah-tanah terus direbut bahkan rumah dan kebun dibakar habis. Tetapi, siapa juga yang peduli?” kata Raja Dima, seolah-olah bicara pada dirinya sendiri.

Raja Inal Siregar, 1938—2005

R I SiregarTempat, tanggal lahir : Medan, 5 Maret 1938

Nama Istri: Yuniar Pane
Nama Anak:

  • Hotmaria Siregar
  • Riri Rosalina Siregar
  • Yuriandi Siregar
  • Siri Yulita Siregar

Pendidikan
-SR Negeri Medan 1945-1952
-SMP Negeri 1 Medan 1952-1955
-SMAN 1 Medan 1955-1958
-AMN Magelang 1958-1961
-Seskoad 1974
-Dr.Honoris Kausa (USU) 2001

Pekerjaan
-Ass.Intel Kodam I/IM 1978-1982
-Ass.Intel Kodam III/ SLW 1982-1983
-Kasdam II/BB 1983-1984
-Pangdam XIII/ MDK 1984-1985
-Pangdam III/ Siliwangi 1985-1987

Jabatan
-Anggota MPR RI 1985-1988
-Gubernur Sumatra Utara 1988-1998

Putra pasangan Kario Siregar dan Rodiah Harahap ini lulus Akademi Militer pada tahun 1961. Karier militernya dimulai di Desa Ampat, Kalimantan Tengah. Berbagai jabatan pun pernah didudukinya, antara lain sebagai Komandan Kompi (Danki) Yonif B Purwokerto (1965-1967), Karo Ops. Kowanda Ujungpandang (1967-197), Waas Intel Kodam II/BB (1975-1978), Asisten Intel Kodam I/Iskandar Muda (1978-1982). Kemudian Asisten Kodam IV/Siliwangi (1982-1983), Kasdam II/BB (1983-1984), Pangdam XIII/Merdeka (1984-1985), Pangdam III/Siliwangi (1985-1988), Gubernur Sumatra Utara (1988-1999) dan terakhir menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sejak tahun 2004.

Raja Inal Siregar meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat Mandala di Medan, Senin 5 September 2005. Beliau merupakan salah satu korban tewas akibat jatuhnya pesawat Mandala Airlines di Jl. Jamin Ginting, Medan. Kecelakaan naas itu menewaskan 150 orang penumpang, awak pesawat dan warga di sekitar lokasi kejadian. Pesawat jenis Boeing 737-200 buatan tahun 1981 bernomor penerbangan RI-091 yang membawa 94 penumpang dan lima awak pesawat tersebut jatuh dan meledak di Jalan Jamin Ginting, kawasan Padang Bulan, Kota Medan, sesaat setelah lepas landas dari Bandar Udara Polonia pukul 10.06. Pesawat itu rencananya akan bertolak ke Jakarta via Padang.

Pemakaman Raja Inal Siregar dilakukan dengan upacara militer yang dipimpin Panglima Kodam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Tritamtomo. Yuniar Pane tak kuasa menahan haru saat pemakaman suaminya Letjen TNI (Purn) Raja Inal Siregar di Taman Makam Pahlawan Bukit Barisan, Jl. Sisingamangaraja, Medan. Dia bahkan terpaksa dipapah anaknya saat beranjak keluar dari areal pemakaman.

Pemakaman yang dihadiri sekitar 1.000 pelayat ini, menyebabkan ruas jalan Sisingamangaraja yang semula dua arah, dijadikan satu arah untuk kebutuhan tempat parkir kendaraan pengantar jenazah. Polisi dan polisi militer tampak mengatur lalu lintas.

Raja Inal Siregar dikenal sebagai sosok bersahaja yang konsisten dan tegas dalam menjalankan tugas. Raja juga dikenal penuh dengan ide-ide yang brilian. Hal itulah yang membawa Raja terpilih menjadi gubernur selama dua periode 1988-1993 dan 1993-1998.

Masyarakat mengenalnya sebagai pribadi yang peduli terhadap pembangunan pedesaan melalui programnya Martabe “Marsipature Hutanabe”, membangun kampung sendiri.

R H Siregar, 1932—2008

R H SrgTempat, tanggal lahir: Pematang Siantar, 11 Januari 1932

Nama Ayah: Lebanus Siregar
Nama Ibu: Sanna Samosir
Nama Istri: Adelaida Siahaan

    Nama Anak:

  • Robert Siregar
  • Mona Siregar
  • Ruth Siregar

Robinson Hamonangan (RH) Siregar, SH, Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia periode 1983-2008, lahir di Pematang Siantar, Sumatra Utara pada 11 Januari 1932.

RH Siregar mengawali karier jurnalistik dengan menjadi redaktur majalah Etika Jakarta pada 1954-1955. Dia lalu menjadi Redaktur Pelaksana Harian Umum Sinar Harapan (1968- 1986) dan Wakil Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan hingga tahun 1991. Pada 1999, RH Siregar dipercaya menjadi ketua tim perumus Kode Etik Wartawan Indonesia. Dia juga menjadi Wakil Ketua Dewan Pers periode 2000-2003 dan anggota Dewan Pers periode 2003-2006.
Mengabdikan diri di PWI sejak 1978 sebagai Ketua Biro Pendidikan/Ketua Biro Hukum PWI sampai dengan tahun 1987, Lembaga Bantuan Wartawan Hukum Jakarta sebagai Ketua tahun 1978-1985, Tim Pelatih PWI Pusat dari 1985, Direktur Program Pengembangan Hukum PWI tahun 1988, Sekretaris Dewan Kehormatan PWI tahun 1988-2003, Ketua Dewan Kehormatan PWI Periode 2003-2008, Wakil Ketua Dewan Pers Periode 2000-2003 dan 2003-2006, Sekretaris Dewan Redaksi Harian Suara Pembaruan, Ketua Tim Perumus KEWI (Kode Etik Wartawan Indonesia) 6 Agustus 1999, Dosen Hukum Pers, Etika Jurnalistik di FH-UKI dan FISIPOL -UKI, Jakarta, mengajar di berbagai Fakultas Hukum di Jakarta mengenai Hukum Pers Tim Perumus MPPI dan PWI tentang RUU Pers 1998-1999, Anggota Pakar LPDS (Lembaga Pendidikan Dr. Soetomo) Jakarta, Ketua Tim Hukum PWI Pusat.Terakhir, dia menjadi Ketua Dewan Kehormatan PWI periode 2003-2008.

Tokoh pers nasional RH Siregar meninggal dunia akibat infeksi bronkhitis di Rumah Sakit MMC Kuningan, Jakarta Selatan pada sekitar pukul 03.30 hari Senin, 14 Januari 2008.

Susan Rodgers Siregar

Susan SiregarPendidikan:

  • 9/67 to 6/71, B.A., Anthropology; Religious Studies, Brown University
  • 9/71 to 6/78, M.A., Winter 1973, Ph.D., June, 1978, University of Chicago, Department of Anthropology
  • 1973, First year intensive Indonesian, Indonesian Summer Studies Institute, University of Wisconsin Summer
  • 9/73 to 6/74, Visiting full-time graduate student, Language and area work, Indonesian, Cornell University

» Photo by http://www.holycross.edu

Susan Rodgers Siregar melakukan penelitian antropologi tentang adat di Sipirok,Tapanuli Selatan dari tahun 1974-1977. Pada saat itu, beliau ialah mahasiswi antropologi Universitas Chicago, Amerika Serikat.

Sebagai antropolog di lapangan, Susan juga belajar bahasa Batak Angkola kepada G.W. Siregar. Beliau diadopsi bermarga Siregar dalam salah satu upacara adat horja di Sipirok-ketika melakukan penelitian-dan dijuluki “Raja’s Daughter from Tano Columbus (Columbusland) – Putri Raja dari Tanah Columbus” dan “Honored Lady from the harajaon of Chicago-Wanita Terhormat dari Kerajaan Chicago”

Mangalehen marga (pemberian marga) Siregar pada tahun 70-an dilakukan kepada Susan Rodgers dengan alasan antara lain, karena beliau dipandang telah berjasa besar kepada orang Batak Angkola dan telah lama hidup dalam lingkungan masyarakat Batak Angkola dan melakukan tugas-tugas sosial kemasyarakatan dalian na tolu. Pemberian marga Siregar di daerah Sipirok itu tenyata sangat mengesankan bagi Susan Rodgers. Hal ini terbukti dengan pencantuman marga Siregar dalam tulisan-tulisan ilmiahnya.

Setelah melakukan penelitian selama 2,5 tahun itu, beliau memperoleh gelar Ph.D. dalam bidang antropologi budaya dari Universitas Chicago pada tahun 1978.
Saat ini Susan Rodgers Siregar menjabat sebagai Professor, Anthropology Chair, Department of Sociology and Anthropology College of the Holy Cross Worcester , Massachuset, Amerika Serikat dan menjadi Book Review Editor, Southeast Asia, Journal of Asian Studies

Syamsir Siregar

Syamsir SiregarNama :Syamsir Siregar

Lahir : Pematang Siantar, 23 Oktober 1941
Pendidikan : Akademi Militer Nasional, 1965
Karir:
- Bertugas di lingkungan Kostrad, Yonif 305/Kostrad, Yonif 412/Kostrad
- Komandan Brigif 9/Kostrad Jember
- Kepala Staf Divisi Infanteri I/Kostrad
- Pangdam II Sriwijaya, 1992-1994
- Kepala Badan Intelijen ABRI (1994-1996)
- Kepala BIN, 2004-2009

Setelah tiga puluh tahun ia merintis karir militer, namanya sempat tenggelam di tengah hiruk pikuk perubahan politik dan kekuasaan negeri ini. Kini bintang Syamsir tampak bersinar lagi. Pada 8 Desember 2004, ia diangkat menjadi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN).

Lulusan Akademi Militer Nasional (AMN), 1965, ini banyak menghabiskan karir militernya di lingkungan Kostrad, antara lain adalah Yonif 305/Kostrad, Yonif 412/Kostrad, Komandan Brigif 9/Kostrad Jember, dan Kepala Staf Divisi Infanteri I/Kostrad. Semenjak itu, karirnya semakin menanjak. Jabatan militer penting pun segera menyusul kenaikan karirnya. Salah satu jabatan penting itu adalah Pangdam II Sriwijaya, 1992-1994. Kemudian, jabatan Kepala Badan Intelijen ABRI (BIA) pun digenggamnya.

Peristiwa 27 Juli 1996, berupa penyerbuan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro oleh massa pendukung Soerjadi yang berbuntut kerusuhan massal di Jakarta, menjadi batu sandungan bagi perjalanan karirnya. Ia menjadi bahan perbincangan media massa lantaran namanya dikait-kaitkan dengan tragedi itu. Menurut pengakuannya sendiri, dia dituduh telah mem-back up Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang dituding terlibat aksi kerusuhan. Padahal, “Saya tahu ada petinggi ABRI yang tidak suka kepada saya dan melaporkan berita bohong itu kepada Soeharto,” katanya kepada TEMPO pada 2000. Panglima ABRI waktu itu, Feisal Tanjung, memang pernah marah dan menegur Syamsir. Alasannya, ada satu perintah operasi yang tidak dilaporkan Syamsir kepada Feisal. “Saya menerima laporan dari Syamsir yang ditegur Pangab, karena tak melaporkan operasi yang dilakukannya,” ungkap mantan Kasum ABRI, Letjen (Purn.) Soeyono suatu ketika. Akhirnya Syamsir dicopot jabatannya sebagai Kepala BIN dan ia memutuskan pensiun dari dinas militer yang telah dirintis selama 30 tahun lebih.

Namun nasib orang tiada yang tahu. Tahun 2004 menjadi tahun keberuntungan dirinya. Tanda-tanda akan kembali berkiprahnya di pentas politik nasional telah tampak di awal tahun ini. Tergabung dalam Tim Kampanye Capres Susilo Bambang Yudhoyono, Syamsir dipercaya menjadi koordinator wilayah Sumatra. Dia juga habis-habisan membantu SBY untuk menangkis isu-isu miring yang mendera calon presiden dari Partai Demokrat itu. Soal ini, tentu saja ia sangat piawai mengingat pengalamannya di BIA. Sewaktu beredar nama-nama calon penghuni kabinet pada Juni 2004, nama Syamsir Siregar pun sudah tertera sebagai calon Kepala BIN. Ia menggantikan posisi Hendropriyono yang mengundurkan diri dari Kepala BIN semenjak SBY menjabat presiden. “Masalah NKRI sekarang ini adalah separatisme,”ujarnya seusai pelantikan di Istana Negara, 8 Desember 2004. Syamsir juga memprioritaskan kerjanya pada penanganan terorisme, RUU Intelijen untuk mendapatkan payung hukum bagi kegiatan intelijen di Indonesia, dan pembenahan koordinasi di lingkungan institusi intelijen di Indonesia.

Sumber: Majalah Tempo

Tan Sri Senu Abdul Rahman Siregar

Tan Sri Senu SiregarTan Sri Senu Abdul Rahman Siregar merupakan generasi Batak Angkola yang dilahirkan pada 10 Oktober 1919 di Jitra, Kedah, Malaysia. Beliau mendapat pendidikan dasar di Sekolah Melayu Jitra pada tahun 1927. Kemudian melanjutkan pendidikan di Maktab Perguruan Tanjung Malim (Maktab Perguruan Sultan Idris) pada tahun 1937 dan selanjutnya meneruskan pelajaran dalam bidang Sains Politik di University of California, Los Angeles (UCLA) pada tahun 1948 dan memperoleh gelar Sarjana Sastra (Sains Politik) pada tahun 1954. Pada tahun 1957-1962, beliau menjadi Duta Besar Malaysia untuk Indonesia (duta besar pertama Malaysia). Pada tahun 1964, Tan Sri Senu terpilih menjadi Menteri Penerangan Pertama Malaysia.

Sumber:
Ensaiklopedia Sejarah dan Kebudayaan Melayu Jilid 4. Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka, 1991
New Malaysian Who’s Who : Part II. Kuala Lumpur : Kasuya Publication, 1991

Zivanna Lethisa Siregar

Zizi Siregar» Photo by Arbain Rambey

Tempat, tanggal lahir: Jakarta, 16 Februari 1989
Nama Ayah: Aswan Siregar
Nama Ibu: Sandy Myriasandra
Adik: Xanrena Alaia Siregar dan Khalya Karamina Siregar
Pendidikan:
-TK hingga SMA: Perguruan Islam Al-Izhar, Pondok Labu, Jakarta Selatan
-Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, diterima melalui jalur PMDK tahun 2007
Pencapaian:
-Putri Indonesia 2008
-Duta Osteoporosis dari Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia
-Kontestan Miss Universe 2009

Puncak Pencapaian Zizi
Dikutip dari Kompas Minggu, 14 Desember 2008
Oleh Ninuk Mardiana Pambudy

Tanggal 15 Agustus 2008 adalah titik balik hidup Zivanna Letisha. Pada hari itu puncak impiannya terwujud dan hidupnya pun ikut berubah. Itu adalah saat mana Zizi, panggilan sulung dari tiga bersaudara putri pasangan Aswan Siregar dan Sandy Myriasandra, terpilih menjadi Puteri Indonesia 2008. “Menjadi Puteri Indonesia adalah puncak pencapaian saya pada usia baru 19 tahun,” papar Zizi. Zizi sudah terpikir menjadi Puteri Indonesia ketika masih duduk di bangku SMP. Dia sempat membayangkan bagaimana rasanya jadi Miss Universe. Sosok yang dia ingat adalah Lara Dutta dari India, Miss Universe 2000. “Lalu terpikir, untuk jadi Miss Universe harus jadi Puteri Indonesia,” kata dia.

Setelah menjadi Puteri Indonesia, kehidupan rutin Zizi berubah. Dia harus cuti kuliah dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) selama setahun. Padahal, lulusan SMA Al-Izhar Pondok Labu, Jakarta Selatan, tahun 2007 itu mempersiapkan waktu cukup panjang hingga diterima di FEUI melalui jalur penelusuran minat dan bakat alias tanpa tes.

“Pertama kali memang agak gamang ketika harus memutuskan cuti kuliah satu tahun, sementara saya baru kuliah setahun dan lagi menikmati. Tetapi, teman-teman, keluarga, juga dosen-dosen di FEUI ngasih semangat. Kapan lagi dapat kesempatan yang cuma sekali seumur hidup ini,” kata Zizi yang dipilih oleh FEUI menjadi mahasiswa berprestasi di bidang budaya. Zizi yang tadinya tinggal bersama orangtua dan dua adiknya di kawasan Cinere di selatan Jakarta, harus tinggal di ”asrama” Puteri Indonesia bersama dua runner up, kini di apartemen di Jalan Sudirman, Jakarta, selama setahun. Meskipun libur pada tiap akhir pekan, tetapi bila ada acara Zizi harus siap memenuhi kewajiban itu.

“Kalau komunikasi sama keluarga kan ada telepon. Kalau sama teman-teman ada internet dan SMS, ada Facebook, gampanglah itu…,” jawab Zizi, khas mewakili generasi digital.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.