Berita

Berita

Berita Marga Siregar

Parsadaan Toga Siregar

Buku Tuanku Rao

Monumen Toga Siregar

Sipirok

Parsadaan Toga Siregar Dunia,Boru-bere dan Yayasan Siregar Dunia

HatobangonKeluarga besar marga Siregar mengadakan halal bihalal dalam rangka merayakan Idul Fitri 1428 H sekaligus mempererat tali silaturahmi dan kekeluargaan pada hari Minggu, 18 November 2007.

Acara yang berlangsung meriah itu diadakan di Gelanggang Pusat Olahraga Persahabatan Korea Indonesia (POPKI) di Jalan Jambore 44, Cibubur, Jakarta Timur.

Tokoh dan sesepuh yang hadir diantaranya mantan Gubernur Bank Indonesia Dr. Arifin M. Siregar, mantan Hakim Agung Bismar Siregar, SH,
mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup/Kepala Bapedal, dr. Panangian Siregar, Ketua Parsadaan Toga Siregar (Patogar) Jaya, Karmen Siregar, SH.

Dalam acara tersebut juga dilaksanakan pengukuhan pendirian Pengurus Persaudaraan Siregar Sedunia dan Yayasan Siregar Sedunia.

Kedua institusi itu dimaksudkan untuk mengikat tali persaudaran di antara sesama marga Siregar yang berada di tempat asalnya (Sumatra Utara)
maupun di perantauan dan juga untuk menghimpun potensi sumber daya manusianya agar bisa makin bermanfaat bagi kepentingan bangsa dan negara.

Buku Tuanku Rao

PongkinangolngolanJudul Buku:

Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao

Teror Agama Islam Mazhab Hambali Di Tanah Batak

Penulis: Mangaradja Onggang Parlindungan (MOP) Siregar

Editor: Ahmad Fikri A.F.

Penerbit: LKiS, Jogjakarta

Cetakan I, Juni 2007

Isi buku: iv + 691 halaman-Hardcover

Pada awalnya buku ini diterbitkan oleh Penerbit Tanjung Pengharapan, Jakarta pada tahun 1964 dan sempat ditarik dari peredaran.

Buku yang mengungkap sisi gelap Gerakan Paderi ini kembali diterbitkan oleh Penerbit LKis pada Juni 2007.

Buku ini memang kontroversial sampai-sampai Buya Hamka menulis dalam bukunya “Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao” (Penerbit Bulan Bintang, 1974)
menuding 80 % bohong isi buku MOP dan sisanya diragukan kebenarannya.Pasalnya, setiap kali Buya Hamka menanyakan data dan fakta buku itu, MOP selalu menjawab,
“Sudah dibakar”.

Buku Greget Tuanku Rao (Jakarta, September 2007) tulisan Basyral Hamidy Harahap pun menambah polemik Tuanku Rao.

Menurut pengakuan MOP pada halaman 358 buku ini; Tuanku Lelo (Idris Nasution) adalah kakek buyutnya.
MOP memperoleh warisan dari ayahnya, Sutan Martua Raja Siregar, seorang guru sejarah, sejumlah catatan tangan yang
merupakan hasil penelitian dari Willem Iskandar, Sutan Martua Raja dan Residen Poortman.

Buku Tuanku Rao karya MOP terkait dengan Perang Paderi.
Melalui buku ini, penulis MOP mengajak kita kembali ke masa lalu Tanah Batak secara gamblang dengan berupaya memahami proses-proses yang terjadi di balik teror kekerasan penyebaran agama
Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak pada 1816-1833.

Penulis MOP meninggal pada tahun 1975.

Anda penasaran dengan buku kontroversial ini ..?

Berikut cuplikannya:

Ketika bermukim di daerah Muara, di Danau Toba, marga Siregar sering melakukan tindakan yang tidak
disenangi oleh marga-marga lain, sehingga konflik bersenjatapun tidak dapat dihindari. Raja Oloan Sorba
Dibanua, kakek moyang dari Dinasti Singamangaraja, memimpin penyerbuan terhadap pemukiman
marga Siregar di Muara. Setelah melihat kekuatan penyerbu yang jauh lebih besar, untuk
menyelamatkan anak buah dan keluarganya, pemimpin marga Siregar, Raja Porhas Siregar meminta
Raja Oloan Sorba Dibanua untuk melakukan perang tanding satu lawan satu sesuai dengan tradisi Batak.
Menurut tradisi perang tanding Batak, rakyat yang pemimpinnya mati dalam pertarungan satu lawan satu
tersebut, harus diperlakukan dengan hormat dan tidak dirampas harta bendanya serta dikawal menuju
tempat yang mereka inginkan.

Dalam perang tanding itu, Raja Porhas Siregar kalah dan tewas di tangan Raja Oloan Sorba Dibanua.
Anak buah Raja Porhas ternyata tidak diperlakukan seperti tradisi perang tanding, melainkan diburu oleh
anak buah Raja Oloan sehingga mereka terpaksa melarikan diri ke tebing-tebing yang tinggi di belakang
Muara, meningggalkan keluarga dan harta benda. Mereka kemudian bermukim di dataran tinggi
Humbang. Pemimpin marga Siregar yang baru, Togar Natigor Siregar mengucapkan sumpah, yang
diikuti oleh seluruh marga Siregar yang mengikat untuk semua keturunan mereka, yaitu:

“kembali ke Muara untuk membunuh Raja Oloan Sorba Dibanua dan seluruh keturunannya”

Dendam ini baru terbalas setelah 26 generasi, tepatnya tahun 1819, ketika Jatengger Siregar yang
datang bersama pasukan Paderi, di bawah pimpinan Pongkinangolngolan (Tuanku Rao), memenggal
kepala Singamangaraja X, keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua, dalam penyerbuan ke Bakkara, ibukota Dinasti Singamangaraja

Ibu dari Pongkinangolngolan adalah Gana Sinambela, putri dari Singamangaraja IX sedangkan ayahnya
adalah Pangeran Gindoporang Sinambela adik dari Singamangaraja IX. Gindoporang dan
Singamangaraja IX adalah putra-putra Singamangaraja VIII. Dengan demikian, Pongkinangolngolan
adalah anak hasil hubungan gelap antara Putri Gana Sinambela dengan pamannya, Pangeran Gindoporang Sinambela.

Gana Sinambela sendiri adalah kakak dari Singamangaraja X. Walaupun terlahir sebagai anak di luar
nikah, Singamangaraja X sangat mengasihi dan memanjakan keponakannya. Untuk memberikan nama
marga, tidak mungkin diberikan marga Sinambela, karena ibunya bermarga Sinambela. Namun nama
marga sangat penting bagi orang Batak, sehingga Singamangaraja X mencari jalan keluar untuk masalah
ini. Singamangaraja X mempunyai adik perempuan lain, Putri Sere Sinambela, yang menikah dengan
Jongga Simorangkir, seorang hulubalang. Dalam suatu upacara adat, secara pro forma
Pongkinangolngolan dijual kepada Jongga Simorangkir, dan Pongkinangolngolan kini bermarga
Simorangkir.

Namun kelahiran di luar nikah ini diketahui oleh 3 orang datu (tokoh spiritual) yang dipimpin oleh Datu
Amantagor Manurung. Mereka meramalkan, bahwa Pongkinangolngolan suatu hari akan membunuh
pamannya, Singamangaraja X. Oleh karena itu, Pongkinangolngolan harus dibunuh.
Sesuai dengan hukum adat, Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan hukuman mati atas keponakan yang
disayanginya. Namun dia memutuskan, bahwa Pongkinangolngolan tidak dipancung kepalanya,
melainkan akan ditenggelamkan di Danau Toba. Dia diikat pada sebatang kayu dan badannya dibebani
dengan batu-batu supaya tenggelam.

Di tepi Danau Toba, Singamangaraja X pura-pura melakukan pemeriksaan terakhir. Namun, dengan
menggunakan keris pusaka Gajah Dompak ia melonggarkan tali yang mengikat Pongkinangolngolan,
sambil menyelipkan satu kantong kulit berisi mata uang perak ke balik pakaian Pongkinangolngolan.
Perbuatan ini tidak diketahui oleh para datu, karena selain tertutup tubuhnya, juga tertutup tubuh Putri
Gana Sinambela yang memeluk dan menangisi putra kesayangannya.

Tubuh Pongkonangolngolan yang terikat kayu dibawa dengan rakit ke tengah danau dan kemudian dibuang ke air.
Setelah berhasil melepaskan batu-batu dari tubuhnya, dengan berpegangan pada kayu
Pongkinangolngolan berhasil mencapai Sungai Asahan, di mana kemudian di dekat Narumonda, ia
ditolong oleh seorang nelayan, Lintong Marpaung.

Setelah bertahun-tahun berada di daerah Angkola dan Sipirok, Pongkinangolngolan memutuskan untuk
pergi ke Minangkabau, karena selalu khawatir suatu hari akan dikenali sebagai orang yang telah dijatuhi
hukuman mati oleh Raja Batak.

Di Minangkabau ia mula-mula bekerja pada Datuk Bandaharo Ganggo sebagai perawat kuda. Pada
waktu itu, tiga orang tokoh Islam Mazhab Hambali, yaitu Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Sumanik baru
kembali dari Mekkah dan sedang melakukan penyebaran Mazhab Hambali di Minangkabau, yang
menganut aliran Syiah. Haji Piobang dan Haji Sumanik pernah menjadi pewira di pasukan kavaleri
Janitsar Turki. Gerakan mereka mendapat dukungan dari Tuanku Nan Renceh, yang mempersiapkan
tentara untuk melaksanakan gerakan Mazhab Hambali, termasuk rencana untuk mengislamkan Mandailing.

Tuanku Nan Renceh yang adalah seorang teman Datuk Bandaharo Ganggo, mendengar mengenai nasib
dan silsilah dari Pongkinangolngolan. Ia memperhitungkan, bahwa Pongkinangolngolan yang adalah
keponakan Singamangaraja X dan sebagai cucu di dalam garis laki-laki dari Singamangaraja VIII, tentu
sangat baik untuk digunakan dalam rencana merebut dan mengislamkan Tanah Batak. Oleh karena itu,
ia meminta kawannya, Datuk Bandaharo agar menyerahkan Pongkinangolngolan kepadanya untuk dididik olehnya.

Pada 9 Rabiul awal 1219 H (tahun 1804 M), dengan syarat-syarat khitanan dan syahadat,
Pongkinangolngolan diislamkan dan diberi nama Umar Katab oleh Tuanku Nan Renceh. Nama tersebut
diambil dari nama seorang Panglima Tentara Islam, Umar Khattab. Namun terselip juga asal usul Umar
Katab, karena bila dibaca dari belakang, maka akan terbaca: Batak :))

Penyebaran Mazhab Hambali dimulai tahun 1804 dengan pemusnahan keluarga Kerajaan Pagarruyung
di Suroaso, yang menolak aliran baru tersebut. Hampir seluruh keluarga Raja Pagarruyung dipenggal
kepalanya oleh pasukan yang dipimpin oleh Tuanku Lelo, yang nama asalnya adalah Idris Nasution.
Hanya beberapa orang saja yang dapat menyelamatkan diri, di antaranya adalah Yang Dipertuan Arifin
Muning Alamsyah yang melarikan diri ke Kuantan dan kemudian meminta bantuan Belanda. Juga
putrinya, Puan Gadis dapat menyelamatkan diri, dan pada tahun 1871 menceriterakan kisahnya kepada Willem Iskandar.

Umar Katab alias Pongkinangolngolan Sinambela kembali dari Mekkah dan Syria tahun 1815, di mana ia
sempat mengikuti pendidikan kemiliteran pada pasukan kavaleri janitsar Turki. Oleh Tuanku Nan Renceh
ia diangkat menjadi perwira tentara Paderi dan diberi gelar Tuanku Rao. Ternyata Tuanku Nan Renceh
menjalankan politik divide et impera seperti Belanda, yaitu menggunakan orang Batak untuk menyerang Tanah Batak.

Penyerbuan ke Tanah Batak dimulai pada 1 Ramadhan 1231 H (tahun 1816 M), dengan penyerbuan
terhadap Benteng Muarasipongi yang dipertahankan oleh marga Lubis. 5.000 orang dari pasukan
berkuda ditambah 6.000 infanteri meluluhlantakkan Benteng Muarasipongi, dan seluruh penduduknya
dibantai tanpa menyisakan seorangpun. Kekejaman ini sengaja dilakukan dan disebarluaskan untuk
menebarkan teror dan rasa takut agar memudahkan penaklukkan. Setelah itu, satu persatu wilayah
Mandailing ditaklukkan oleh pasukan Paderi, yang dipimpin oleh Tuanku Rao dan Tuanku Lelo, yang
adalah putra-putra Batak sendiri. Selain kedua nama ini, ada sejumlah orang Batak yang telah masuk
Islam, ikut pasukan Paderi menyerang Tanak Batak, yaitu Tuanku Tambusai (Harahap), Tuanku Sorik
Marapin (Nasution), Tuanku Mandailing (Lubis), Tuanku Asahan (Mansur Marpaung), Tuanku Kotapinang
(Alamsyah Dasopang), Tuanku Daulat (Harahap), Tuanku Patuan Soripada (Siregar), Tuanku Saman
(Hutagalung), Tuanku Ali Sakti (Jatengger Siregar), Tuanku Junjungan (Tahir Daulae) dan Tuanku Marajo (Harahap)

Penyerbuan terhadap Singamangaraja X di Benteng Bakkara, dilaksanakan tahun 1819. Orang-orang
Siregar Salak dari Sipirok dipimpin oleh Jatengger Siregar ikut dalam pasukan penyerang, guna
memenuhi sumpah Togar Natigor Siregar dan membalas dendam kepada keturunan Raja Oloan Sorba
Dibanua, yaitu Singamangaraja X. Jatengger Siregar menantang Singamangaraja untuk melakukan
perang tanding. Walaupun sudah berusia lanjut, namun Singamangaraja tak gentar dan menerima
tantangan Jatengger Siregar yang masih muda. Duel dilakukan dengan menggunakan pedang di atas kuda.

Duel yang tak seimbang berlangsung tak lama. Singamangaraja kalah dan kepalanya dipenggal oleh
pedang Jatengger Siregar. Terpenuhi sudah dendam yang tersimpan selama 26 generasi. Kepala
Singamangaraja X ditusukkan ke ujung satu tombak dan ditancapkan ke tanah. Orang-orang marga
Siregar masih belum puas dan menantang putra-putra Singamangaraja X untuk perang tanding. Sebelas
putra-putra Singamangaraja memenuhi tantangan ini, dan hasilnya adalah 7—4 untuk kemenangan
putra-putra Singamangaraja. Namun, setelah itu, penyerbuan terhadap Benteng Bakkara terus
dilanjutkan, dan sebagaimana di tempat-tempat lain, tak tersisa seorangpun dari penduduk Bakkara,
termasuk semua perempuan yang juga tewas dalam pertempuran.

Penyerbuan pasukan Paderi terhenti tahun 1820, karena berjangkitnya penyakit kolera dan epidemi
penyakit pes. Dari 150.000 orang tentara Paderi yang memasuki Tanah Batak tahun 1818, hanya tersisa
sekitar 30.000 orang dua tahun kemudian. Sebagian terbesar bukan tewas di medan petempuran,
melainkan mati karena berbagai penyakit.

Untuk menyelamatkan sisa pasukannya, tahun 1820 Tuanku Rao bermaksud menarik mundur seluruh
pasukannya dari Tanah Batak Utara, sehingga rencana pengIslaman seluruh Tanah Batak tak dapat
diteruskan. Namun Tuanku Imam Bonjol memerintahkan agar Tuanku Rao bersama pasukannya tetap di
Tanah Batak, untuk menghadang masuknya tentara Belanda. Ketika keadaan bertambah parah, akhirnya
Tuanku Rao melakukan pembangkangan terhadap perintah Tuanku Imam Bonjol, dan memerintahkan
sisa pasukannya keluar dari Tanah Batak Utara dan kembali ke Selatan.
Enam dari panglima pasukan Paderi asal Batak, yaitu Tuanku Mandailing, Tuanku Asahan, Tuanku
Kotapinang, Tuanku Daulat, Tuanku Ali Sakti dan Tuanku Junjungan, tahun 1820 memberontak terhadap
penindasan asing dari Bonjol/Minangkabau dan menanggalkan gelar Tuanku yang dipandang sebagai
gelar Minangkabau. Bahkan Jatengger Siregar hanya menyandang gelar tersebut selama tiga hari.
Mereka sangat marah atas perilaku pasukan Paderi yang merampok dan menguras Tanah Batak yang
telah ditaklukkan. Hanya karena ingin balas dendam kepada Singamangaraja, Jatengger Siregar
menahan diri sampai terlaksananya sumpah Togar Natigor Siregar dan ia behasil membunuh Singamangaraja X

Mansur Marpaung (Tuanku Asahan) dan Alamsyah Dasopang (Tuanku Kotapinang) dengan tegas
menyatakan tidak mau tunduk lagi kepada Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Nan Renceh, dan kemudian
mendirikan kesultanan/kerajaan sendiri. Marpaung mendirikan Kesultanan Asahan dan mengangkat
dirinya menjadi sultan, sedangkan Dasopang mendirikan Kerajaan Kotapinang, dan ia menjadi raja.
Tuanku Rao tewas dalam pertempuran di Air Bangis pada 5 September 1821, sedangkan Tuanku Lelo
(Idris Nasution) tewas dipenggal kepalanya dan kemudian tubuhnya dicincang oleh Halimah Rangkuti,
salah satu tawanan yang dijadikan selirnya.

Monumen Toga Siregar

Monumen Toga SiregarMonumen Toga Siregar terletak di kampung halaman keturunan Siregar

di Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara,

Provinsi Sumatra Utara.

Monumen ini merupakan situs yang menandakan tempat asal-usul

nenek moyang seluruh keturunan Siregar Si Opat Ama

(Silo, Dongoran, Silali dan Siagian).

Monumen Toga Siregar juga menjadi

simbol persatuan keturunan Siregar.

Sipirok

Dataran tinggi Sipirok terletak pada Bukit Barisan yang membujur sepanjang Pulau Sumatra.

Bentuknya kira-kira empat persegi. Di sebelah timur dibatasi oleh Dolok (gunung) Sipipisan.Di sebelah baratnya gunung berapi Sibual—buali.
Simagomago berdiri agak di sebelah selatan, yang menjadi batas dengan tanah Angkola. Di sebelah utara, Simole-ole memisahkan dataran tinggi Sipirok dengan dataran tinggi Pangaribuan (Toba).

Sipirok saat ini telah menjadi ibukota Kabupaten Tapanuli Selatan.

Kota tua Sipirok; cuacanya dingin dan diapit oleh pegunungan yang indah. Berjarak kira kira 40 km dari Kota Padang Sidempuan.
Sipirok juga merupakan daerah yang memiliki kesan tersendiri di hati orang-orang bermarga Siregar.

Meskipun berada di daerah rawan gempa, Sipirok sesungguhnya memiliki tempat-tempat wisata yang sangat
exotic, antara lain:

    • Danau Marsabut

Airnya sangat jernih dan udara di sekitarnya sejuk. Di sepanjang jalan menuju danau kita bisa menikmati keindahan alam sungai yang mengalir dan hijaunya pegunungan.

Letak Danau Marsabut sejauh 14 km dari kota Sipirok.

    • Tor Simago-mago

Dari puncak bukit Tor (kadang disebut juga Dolok) Simago-mago kita bisa memandang alam yang indah yang mengelilingi kota Sipirok.

Tor Simago-mago terletak kira-kira 6 km dari kota Sipirok menuju arah kota Padang Sidempuan.

    • Aek Milas

Tempat pemandian air panas. Airnya berasal dari Gunung Sibual-buali. Aek Milas berada kira-kira 8 km dari kota Sipirok.